Kita sebagai penulis tentunya akan sangat bahagia jika berhasil menerbitkan sebuah buku. Penulis pemula maupun yang sudah berpengalaman dalam hal ini mempunyai tujuan yang sama ketika menulis sebuah karya, yaitu: menerbitkannya. Dan, hampir semua penulis pemula sangat berjuang keras untuk menerbitkan buku.
Jika anda seorang penulis yang telah menerbitkan buku, tentunya anda mengetahui, dan merasakan bagaimana ketika sebuah buku yang telah kita tulis dengan all out akhirnya terbit. Perasaan senang yang luar biasa, dan suatu pembuktian yang terwujud. Ini bukan tentang uang atau apapun, tetapi tentang kepuasaan. Ya, seperti itulah skema yang terjadi. “Yang terpenting buku sudah terbit!” Selanjutnya? Anda tidak tahu bahwa buku tersebut diminati oleh pasar atau tidak. Kebanyakan dari penulis melupakan hal ini, bahkan tidak memperdulikannya. Ets, dalam self publishing itu adalah pemikiran yang salah.
Mengapa saya mengatakan salah? Bukankah yang terpenting adalah buku kita dapat terbit? Ya, menerbitkan buku adalah tetap menjadi tujuan awal, tetapi anda tetap harus memperhitungkan dan menganilisa nilai jual buku anda. Mengapa? Karena, jika anda tidak siap dengan segala pemikiran yang obyektif dalam menilai naskah anda, ujung-ujungnya anda harus mengalami kekecewaan.
Banyak dari teman-teman saya yang juga berprofesi sebagai penulis mengalami kekecewaan seperti diatas. Mereka kecewa karena penjualan buku mereka sangat tidak baik di pasaran, alias tidak laku. Perasaan kecewa tersebut seakan menghapuskan perasaan senang luar biasa ketika buku mereka terbit, dan ketika mengetahui bahwa hanya sedikit orang yang membeli buku mereka. Akhirnya, rasa bangga telah menerbitkan buku hancur seketika, dan mereka pun memutuskan untuk rehat dari dunia penulisan. Saya sangat tidak ingin anda mengalami situasi seperti itu. Saya ingin anda siap dan mengetahui segala sebab akibat terhadap naskah anda.
Sebagai contoh, bila anda mengirimkan sebuah naskah kepada penerbit tertentu, berapa lama biasanya mereka memutuskan sebuah buku layak terbit atau tidak? Anda tahu penerbit tersebut sedang apa? Mereka sedang menilai buku anda., menimbang-nimbangnya, dan melihat dari sisi nilai jualnya. Penerbit mengetahui dengan jelas bahwa “buku berkualitas” tidak identik dengan “buku laris”
Jika anda seorang yang sangat ideologis, dan tidak bertenggang rasa dengan apapun, lebih baik jangan teruskan membaca, karena uraian ini akan menggoyahkan prinsip keras anda. Saya ingin memberitahu bahwa banyak buku berkualitas dipasaran tetapi tidak diminati oleh pembaca, dan hanya menjadi pemanis rak-rak toko buku. Sedangkan, buku kacangan yang mungkin dapat dibilang sangat tidak berkualitas malah laku sekali bagaikan kacang goreng, dan mendapatkan gelar buku best seller. Miris? Ya, memang begitulah keadaanya.
Jadi kita harus menulis sebuah buku yang hanya diminati pasar tanpa perlu memperhatikan segi kualitas dari isi buku tersebut? Saya harap anda tidak langsung memutuskan berpikir seperti itu, itu pemikiran yang sempit. Cara yang terbaik adalah menulis sebuah buku yang berkualitas, dan mempunyai nilai jual tinggi. Anda harus membuka mata, merasakan keinginan para pembaca, dan memberikan apa yang mereka inginkan dengan karya yang berkualitas. Ingat dua hal ini harus seimbang, dan saling memperkuat satu sama lain.
Saya memberikan sebuah contoh agar anda dapat lebih mengerti pemahaman diatas. Sekarang, posisikan diri anda sebagai pembaca yang hendak pergi membeli buku ke sebuah toko buku, bayangkan anda mencari-cari buku yang menurut sudut pandang anda adalah buku yang ideal untuk dibaca. Namun, anda hanya dapat menilainya secara sekilas, anda belum pernah membacanya atau mengetahui informasi akan buku tersebut. Jadi, hal apa yang anda pertimbangkan untuk membeli buku tersebut? Kualitasnya? Bagaimana mengetahui kualitas jika anda belum membacanya? Jadi, pertimbangan utama dalam membeli bukanlah kualitas buku tersebut.
Jika anda ingin mengetahui alasan-alasan seseorang membeli buku, anda dapat melakukan survey kepada para pembaca, bertanya kepada mereka tentang alasan-alasan apa yang membuat mereka membeli sebuah buku. Oh ya, saya pernah melakukan hal ini, dan jawaban yang saya dapatkan sangat beragam, seperti “Saya akan memilih buku yang tampilannya paling menarik” atau “Saya akan memilih buku yang mempunyai tema unik” Sayangnya, pendapat-pendapat diatas sangat spesifik dan dapat membuat kita bingung. Tetapi, jika anda melihatnya benar-benar, anda dapat mengetahui bahwa pendapat-pendapat tersebut mempunyai satu tujuan, yaitu “Buku yang menarik” Ya, sebuah buku yang menarik. Jadi, buatlah buku yang menarik.
Baik, sekarang kita telah mendapatkan sebuah tujuan, yaitu membuat sebuah buku yang menarik. Tetapi bagaimana membuat sebuah buku menjadi menarik? Bukankah kata menarik itu sangat identik dengan pemikiran subyektif masing-masing personal? Ya, memang betul seperti itu, oleh karenanya saya akan meberikan beberapa faktor yang dapat membuat sebuah buku menjadi menarik dimata pembacanya.
- Judul yang menarik
- Nilai manfaat buku tersebut
- Tema yang tidak ketinggal zaman
- Desain sampul yang menarik
- Ukuran fisik buku
- Harga yang bersaing
- Endorsement (komentar orang lain yang tercantum di sampul buku)
- Keterbaruan isi
- Nama penulis
- Nama penerbit
- Synopsis
- Dan masih banyak lagi
Walaupun kita telah mengetahui faktor-faktor yang membuat sebuah buku menjadi menarik, tetapi kita masih sangat sulit untuk memutuskannya, karena dalam hal ini pandangan A dan B tentu berbeda, begitu juga si C. Memang sangat sulit untuk membuat sebuah buku yang memenuhi semua faktor diatas.
Dengan pemahaman dan analisi seperti diatas, kekurangan dan kelemahan sebuah buku dapat anda akali. Intinya, anda harus memberikan yang terbaik dari segi kualitas maupun hal-hal yang mampu mendongkrak nilai jual buku tersebut. Banyak sekali jalan untuk menutupi sebuah kekurangan dan mengalihkannya dengan kelebihan. Silahkan mencoba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar